Nama : MURDANI AGUSTIAN
Kelas : 27414640
NPM : 4IC09
PENGERTIAN PERAWATAN DAN PERBAIKAN MESIN
Perawatan adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu produk atau barang dalam, memperbaikinya sampai pada kondisi yang dapat diterima.
HUBUNGAN PERAWATAN DENGAN SISTEM PRODUKSI
Alasan pentingnya dilakukan pekerjaan perawatan ?
1. Agar alat tersebut siap dipakai pada saat yang diperlukan.
2. Agar kemampuan kinerja suatu alat tetap dalam kondisi yang baik, secara teknis maupun ekonomis.
3. Agar umur pakai dari alat tersebut dapat diperpanjang.
BERBAGAI BENTUK PEMELIHARAAN DEFINISI :
Pemeliharaan terencana adalah pemeliharaan yang diorganisasi dan dilakukan dengan pemikiran ke masa depan, pengendalian dan pencatatan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
a. Pemeliharaan pencegahan adalah pemeliharaan yang dilakukan pada selang waktu yang ditentukan sebelumnya, atau terhadap kriteria lain yang diuraikan, dan dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan bagian-bagian lain yang tidak memenuhi kondisi yang bisa diterima.
b. Pemeliharaan korektif adalah pemeliharaan yang dilakukan untuk memperbaiki suatu bagian (termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti untuk memenuhi suatu kondisi yang bisa diterima.
c. Pemeliharaan jalan adalah pemeliharaan yang dapat dilakukan selama mesin dipakai.
d. Pemeliharaan berhenti adalah pemeliharaan yang hanya dapat dilakukan selama mesin berhenti.
e. Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan yang perlu segera dilakukan untuk mencegah akibat yang serius.
STRATEGI PERAWATAN
1. BREAK DOWN MAINTENANCE
Suatu pekerjaan yang dilakukan terhadap suatu alat/fasilitas berdasar perencanaan sebelumnya yang diduga telah mengalami kerusakan.
2. SCHEDULE MAINTENANCE
Suatu daftar menyeluruh yang berisi kegiatan maintenance dan kejadian-kejadian yang menyertainya.
3. PREVENTIVE MAINTENANCE
Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada alat / fasilitas lebih lanjut.
KLASIFIKASI DAN JENIS PERAWATAN
Perawatan Yang Direncanakan
Perawatan yang direncanakan, yaitu perawatan yang terorganisasi dilakukan dalam bentuk waktu yang panjang, terkontrol dan tercatat.
Perawatan ini dilakukan dengan kebijaksanaan yang telah dipertimbangkan terlebih dahulu dengan baik. Kebijaksanaan tersebut ditetapkan secara terkontrol dan terarah untuk mendukung rencana yang telah ditetapkan. Adanya catatan sejarah statistik untuk mengevaluasi hasil kebijaksanaan yang telah digariskan guna menetapkan kebijaksanaan selanjutnya yang lebih sempurna.
Perawatan Yang Tidak Direncanakan
Perawatan yang tidak direncanakan adalah perawatan yang dilakukan akibat adanya masalah pada suatu alat/mesin sehingga menimbulkan keadaan mendesak.
Perawatan jenis ini umumnya menuntut perbaikan segera dan bersifat menggangu aktifitas operasional.
Bentuk perawatan :
a. Perawatan pencegahan
b. Perawatan Ramalan
c. Perawatan korektif
d. Perawatan Berjalan
e. Perawatan setelah terjadi kerusakan
f. Shut down maintenance
JENIS PELUMAS DAN TEKNIK PELUMASAN
Jenis Pelumas
1. Pelumas cair (liquid lubricants)
umumnya adalah minyak oli mineral (alam), minyak oli dari tumbuhan atau binatang, dan oli sintetis. Kadang-kadang air juga digunakan pada peralatan dalam lingkungan air. Pelumas memerlukan “additive” untuk meningkatkan kualitas pelumasan untuk keperluan tertentu. Misalnya additive untuk “extreme pressure” diperlukan pada pelumas untuk roda gigi di mana pelumas akan mengalami beban tekanan yang tinggi. Aditif anti oksidasi dan tahan temperatur tinggi diperlukan untuk oli pelumas engine. Oli pelumas diklasifikasikan berdasarkan viskositasdan kandungan aditifnya. Tabel 11.2 menunjukkan beberapa tipe pelumas cair termasuk sifat-sifat dan penggunaannya.
2. Pelumas lapisan padat (solid-film lubricants)
Ada dua jenis yaitu : material yang memiliki kekuatan geser yang sangat rendah seperti graphite dan molybdenum disulfida (MoS2) yang dapat ditambahkan pada permukaan, coating seperti misalnya phosfat, oksida, atau sulfida yang dapat terbentuk pada suatu permukaan. Grafit dan MoS2biasanya tersedia dalam bentuk bubuk dan dapat dibawa ke permukaan dengan “binder” seperti misalnya grease atau material lain. Pelumas padat ini memiliki kelebihan dalam hal koefisien gesek yang rendah dan tahan temperatur tinggi.
Pelumas padat dalam bentuk coating dapat dibentuk pada permukaan dengan reaksi kimia atauelektrokimia. Coating ini biasanya sangat tipis dan akan mengalami keausan dalam jangka waktu tertentu. Beberapa aditif pada oli dapat membentuk coating sulfida pada permukaan secara terus menerus melalui reaksi kimia.
3. Pelumas Semi Padat (Semi solid Lubricant)
Pelumas yang semi padat (Semi solid Lubricant) Pelumas semi padat ciri khasnya adalah, akan menjadi cair manakala suhu naik, dan sebaliknya akan menjadi kental jika temperatur turun. Contohnya, Gemuk (Grease).
Grease adalah pelumas padat atau semi padat dan umumnya terbuat dari sabun, minyak mineral, dan bermacam-macam bahan tambah serta aditif. Pelumas ini melekat kuat pada permukaan logam dan sangat kental (highly viscous). Viskositasnya tergantung pada laju geseran antar permukaan logam.
Meskipun banyak digunakan secara luas untukmelumasi komponen-komponen mesin, grease mempunyai keterbatasan penggunaan dalam proses pengerjaan logam. Sabun umumnya merupakan hasil reaksi dari garam sodium atau potassioum dengan asam lemak (fatty acids). Sabun alkali larut dalam air, tapi sabun logam umumnya tidak larut. Sabun logam biasa digunakan dalam bermacam-macam proses pengerjaan logam. Jenis pelumas ini merupakan pelumas lapis batas yang efektif dan dapat membentuk lapisan film tebal (thcik-film layers) pada antar muka cetakan dengan benda kerja, terutama ketika digunakan diatas pelumas lapisan konversi. Wax dapat terbuat dari tanaman (paraffin) atau binatang. Wax memiliki struktur yang lebih kompleks. Dibandingkan dengan grease, wax kurang “greasy” dan lebih getas. Wax mempunyai keterbatasan dalam proses pengerjaan logam, kecuali untuk pengerjaan dingin tembaga dan untuk baja tahan karat dan paduan suhu tinggi.
SIFAT SIFAT PELUMAS
1. Kekentalan
kekentalan minyak pelumas harus sesuai dengan fungsi minyak tersebut untuk mencegah keausan bagian yang bergesekan terutama pada beban yang besar dan putaran rendah , minyak pelumas yang terlalu kental sukar untuk mengalir melalui saluranya , disamping menyebabkan kerugian pada daya mesin yang terlalu besar
biasanya minyak pelumas diujipada temperature 210o F dan dinyatakan dengan bilangan SAE contoh: SAE 30,SAE 40,dan seterusnya. Ada kalanya pengujian dilakukan dengan temperature 0o F , untuk membedakannya ditambah huruf contoh: SAE 20 w
2. Indeks kekentalan
Kekentalan minyak pelumas dapat berubah ubah menurut perubahan temperatur dengan sendirinya minyak pelumas yang baik tidak terlalu peka terhadap perubahan temperature ,sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya , baik dalam keadaan dingin, pada saat mesin mulai berputar , maupun pada temperature kerja
3. Titik tuang
pada temperature tertentu ,yang disebut titik tuang, minyak pelumas akan membentuk jaringan Kristal yang menyababkan minyak itu sukar mengalir, karena itu sebaiknya dipergunakan minyak pelumas dengan titik ruang yang serendah rendahnya untuk menjamin agar minyak pelumas dapat mengalir dengan lancer ke dalam pompa dan saluranya pada setiap operasi
4. Stabilitas
Beberapa minyak pelumas pada temperature tinggi akan berubah susunan kimianya sehingga terjadilah endapan yang mengakibatkan cincin torak melakat pada alurnya
5. Kelumasan
Minyak pelumas harus memiliki kelumasan, atau sifat melumasi yang cukup baik, yaitu dapat membasahi permukaan logam. Sifat ini sangat penting melindungi permukaan bagian mesin yang bersentuhan missal pada waktu start, yaitu pada saat minyak pelumas belum bekerja sebagaimana mestinya.
BAHAN ADITIF PELUMAS
Anti foam :
Meminimalisir terjadinya gelembung udara yang timbul akibat kerja piston, sehingga oksidasi dan kontak antar metal secara langsung juga dapat diminimalisir.
Meminimalisir terjadinya gelembung udara yang timbul akibat kerja piston, sehingga oksidasi dan kontak antar metal secara langsung juga dapat diminimalisir.
Anti Oxidant :
Mencegah reaksi berantai proses oksidasi yang dapat berakibat menebalnya lapisan pelumas secara berlebih dan berpotensi terjadinya sludge.
Mencegah reaksi berantai proses oksidasi yang dapat berakibat menebalnya lapisan pelumas secara berlebih dan berpotensi terjadinya sludge.
Anti Wear :
mencegah panas berlebih yang timbul akibat gesekan antar permukaan metal karena akselerasi dan deselerasi serta beban berat terhadap kinerja mesin.
mencegah panas berlebih yang timbul akibat gesekan antar permukaan metal karena akselerasi dan deselerasi serta beban berat terhadap kinerja mesin.
Corrosion & Rust Inhibitor:
mencegah kerusakan permukaan metal dan karat yang mungkin timbul akibat reaksi acid (asam) ataupun oksidasi udara.
Detergent:
Mencegah terjadinya kontaminasi pelumas dari sisa pembakaran dan mempertahankan permukaan metal tetap bersih.
Mencegah terjadinya kontaminasi pelumas dari sisa pembakaran dan mempertahankan permukaan metal tetap bersih.
Dispersant:
Menetralisir sisa pembakaran yang bersifat kontaminasi sehingga dapat meminimalisir meningkatnya kekentalan pelumas dan terbentuknya sludge serta oksidasi.
Menetralisir sisa pembakaran yang bersifat kontaminasi sehingga dapat meminimalisir meningkatnya kekentalan pelumas dan terbentuknya sludge serta oksidasi.
Friction Modifier :
Meningkatkan kinerja pelumasan pada permukaan metal yang bergerak sehingga gesekan yang bersifat abrasi dan noise dapat diminimalisir.
Meningkatkan kinerja pelumasan pada permukaan metal yang bergerak sehingga gesekan yang bersifat abrasi dan noise dapat diminimalisir.
Pour Point Depressants :
Membantu stabilisasi kekentalan pelumas pada temperatur sangat rendah, sehingga pelumas tidak mengental/membeku serta timbulnya wax yang dapat menghambat flow pelumas dapat diminimalisir.
Membantu stabilisasi kekentalan pelumas pada temperatur sangat rendah, sehingga pelumas tidak mengental/membeku serta timbulnya wax yang dapat menghambat flow pelumas dapat diminimalisir.
TBN :
Menetralisir sifat asam yang mungkin timbul akibat kinerja pelumasan pada temperatur tinggi ataupun persenyawaan zat pembakar.
Menetralisir sifat asam yang mungkin timbul akibat kinerja pelumasan pada temperatur tinggi ataupun persenyawaan zat pembakar.
Viscosity Index Improver :
Berfungsi untuk memperlambat penurunan viskositas akibat naiknya temperatur suhu sebagai dampak kinerja mesin yang optimal, sehingga viskositas pelumas jadi lebih stabil.
Berfungsi untuk memperlambat penurunan viskositas akibat naiknya temperatur suhu sebagai dampak kinerja mesin yang optimal, sehingga viskositas pelumas jadi lebih stabil.
Oil Flow Improver :
Berfungsi untuk membantu laju alir pelumas menjadi lebih cepat, sehingga kontak antar metal secara langsung dapat diminimalisir, terutama pada saat start awal mesin. Uraian tersebut di atas jelas memperlihatkan bahwa base oil dan additives merupakan suatu paket yang tidak dapat dipisahkan untuk mencapai hasil pelumasan optimal.
Berfungsi untuk membantu laju alir pelumas menjadi lebih cepat, sehingga kontak antar metal secara langsung dapat diminimalisir, terutama pada saat start awal mesin. Uraian tersebut di atas jelas memperlihatkan bahwa base oil dan additives merupakan suatu paket yang tidak dapat dipisahkan untuk mencapai hasil pelumasan optimal.
SISTEM PELUMASAN MESIN
Pelumas memegang peranan penting dalam desain dan operasi semua mesin otomotif. Umur dan service yang diberikan oleh mobil tergantung pada perhatian yang kita berikan pada pelumasannya. Pada motor bakar, pelumasan bahkan lebih sulit dibanding pada mesin-mesin lainnya, karena di sini terdapat panas terutama di sekitar torak dan silinder, sebagai akibat leadakan dalam ruang
pembakaran. Tujuan utama dari pelumasan setiap peralatan mekanis adalah untuk melenyapkan gesekan, keausan dan kehilangan daya. Tujuan lain dari pelumasan pada motor bakar adalah:
1. Menyerap dan memindahkan panas.
2. Sebagai penyekat lubang antara torak dan silinder sehingga tekanan tidak bocor dari ruang pembakaran.
3. Sebagai bantalan untuk meredam suara berisik dari bagian-bagian yang bergerak.
SUMBER :